Saka---lelaki
berbaju denim---menghentikan petikannya. Presensi Liz yang nampak kecil di
ujung sedikit membuat bibirnya tertarik ke atas. Seperti biasa, liz datang
bersama Kenny. Ya, Kenny. Sepeda pemberian kakaknya tahun lalu. Jangan pernah
menanyakan bagaimana kabar kakaknya, tentulah lelaki itu damai sekarang setelah
beberapa waktu lalu bergulung-gulung dengan ombak di tengah laut.
“Terlambat
lagi?” Saka menghadap ke arah Liz yang sudah duduk di bangku yang sama
dengannya.
Liz tidak menjawab langsung, dia mengambil dua bungkusan plastik berisi bagea dari keranjang sepeda kemudian memberikannya pada Saka. “Pak Lik membawakanku ini, cobalah!”
Alih-alih mengambil bungkusan itu, dia malah terhipnotis pada lutut Liz. “Kenapa bajumu sedikit basah dan lututmu ... berdarah?”
Liz
refleks menjauh begitu tangan Saka menyentuh luka di lututnya. “Aku tak sengaja
terserempet ibu-ibu pembawa air. Aku tak bisa menghindar, jalanan sangat macet bahkan
menyerupai padatnya pusat kota kita,” jawab Liz.
“Liz,
kamu mengigau, ya. Itu bukan desa kita yang ramai. Jalan kita saja yang sempit,”kata
Saka sedikit meninggi.
“Lalu
kenapa kamu mengumpat jalan yang sempit? Lebih baikkamu minta ayahmu memberi
dana itu, perlebar jalan!” kesal Liz meninggalkan Saka.
Saka
menatap langit gelap menggulung-gulung yang mungkin sebentar lagi jatuh. Saka
berteriak lantang, ”Liz! Di sini saja. Hujan sebentar lagi. Kamu tidak membawa
payung. Kamu bisa basah kuyup dan sakit!”
“Aku sudah biasa!” seru Liz tak kalah lantangnya.
#tantangan1
#odopbatch7
#weekend
#odop
#daretodare
#holiday
#challenge

4 komentar:
Uh, aku sudah biasa 🤗
apakah bagea yang dimaksudkan adalah makanan yang keras dan butuh usaha untuk dimakan? kalo iya berarti itu salah satu makanan khas dari daerah aku atau kebetulan.
Keren tulisannya. Pas "bilang saja pada ayahmu untuk memperlebar jalan yang sempit", muncul perenungan dihatiku
Jalanan yg sempit, apalagi arah Baskoro /eh/
Posting Komentar