“Keburukan
paling buruk di dunia ini adalah lelaki berwajah tampan,” batin Lu-Si kesal di
bangku ujung dekat jendela kiri. Y O O, perempuan itu menggambarnya random di
kaca jendela yang basah. Hujan sudah mengguyur selama dua jam. Lelaki bernama
Yoo Hee-Chae adalah penyebab keterjebakannya di kafe ini.
“Waffle set yang Agassi pesan. Silakan dinikmati,” ujar salah satu pelayan di Slow
Park.
“Gamsahamnida,”
jawabnya dengan senyum kikuk kemudian menundukkan badan dengan sopan. Dia hanya
bisa menelan ludah begitu melihat perempuan yang mungkin lebih tua darinya itu
berlalu. Dia malu, bisa saja dia melihat tingkah konyol Lu-Si.
Lu-Si
makan dengan sangat lahap. Dia benar-benar tak merasa kenyang. Benar, ini adalah
makanan kedua yang dipesannya. Dia masih ingat dengan sebuah tulisan di website
temannya yang kebetulan seorang jurnalistik, ulasan singkat tentang emotional eating. Sepertinya Lu-Si tengah mengalaminya.
Lu-Si
mencoba menghubungi Hee-Chae kembali. Panggilan pertama tak diangkat dan nomor
lelaki itu sudah tak aktif pada panggilan kedua. Seharusnya dia percaya dengan
kata-kata orang, seperti paparan seorang nenek penjual sayur tadi pagi.
Perempuan yang menggelung rambutnya itu mengatakan jika pelaku kejahatan
terbaik bagi wanita adalah seorang lelaki tampan. Perkataan lelaki pulalah yang
membuat banyak wanita menangis. Lu-Si memilih mengiyakan, malas untuk bicara
lebih banyak. Perempuan-perempuan itu
saja yang bodoh! Mudah sekali terbawa tipu daya para lelaki berparas dewa.
Lu-Si, perempuan itu
akan mempercayai istilah karma setelah ini. Dia baru menyadari ternyata dirinya
juga bodoh seperti perempuan kebanyakan. Apa
jangan-jangan semua perempuan itu bodoh, ya? Hanya tidak sadar saja.
Lelah
memukuli kepalanya sendiri, dia memutuskan kembali ke flat miliknya yang jauh
dari kata nyaman itu, membayar tagihan dan segera pergi meninggalkan lantai dua
kafe itu.
Banyak
hal yang membuat terlihat bodoh hari ini, tapi ada satu hal sisi kepintarannya.
Hari ini dia tak lupa melihat prediksi cuaca di apllikasi ponselnya. Lagi pula
sudah seminggu pula hujan mengguyur kota. Tentu tak heran jika hari ini hujan.
Lu-Si
membelah malam dengan payung satu-satunya. Payung pemberian mendiang ibunya,
warnanya merah dengan motif bunga sakura berwarna putih yang tengah mekar. Walaupun
dia sudah mengenakan payung tetaplah saja air hujan membasahi badannya,
merembes dari ujung-ujung. Sesekali dia menendang apa-apa yang tak sengaja ditemuinya
di jalan, seperti sampah plastik dan kaleng. Jika mungkin bukan karena manusia
yang sengaja membuangnya maka bisa juga angin menerbangkannya sampai ke sini.
“Lu-Si!
Kim Lu-Si-a! Kau baru pulang?” teriaknya dari depan flat Lu-Si.
Sementara
Lu-Si hanya terdiam, membeku di ujung jalan. Dia memerlukan waktu beberapa
menit untuk menormalkan pikirannya kembali. Setelah itu barulah dia mendekat
kemudian menelitiwajah tampan di depannya. Dia benar-benar bodoh. Dia tengah
karma, sepertinya perempuan di luar sana tengah menertawakannya. Dia menarik sedikit
sudut bibirnya samar berharap Hee-Chae memperoleh karmanya pula.
“Kau
menungguku selama ini?” tanya Hee-Chae tapi tak mendapat jawaban dari Lu-Si,”seharusnya
kau pergi saja ketika aku tak ada tanda-tanda untuk datang.”
Lu-Si
terkekeh hambar dan berkata,” kau berkata jika kita akan bertemu pukul enam
sore dan pukul empat sore aku sudah merasa bahagia.”
Sumber Gambar : Pinterest
Edit : Canva
#ODOPBatch7 #OneDayOnePost #Day1 #GroupValletta
Sumber Gambar : Pinterest
Edit : Canva
#ODOPBatch7 #OneDayOnePost #Day1 #GroupValletta

0 komentar:
Posting Komentar