Pages

Senin, 09 September 2019

Pukul Empat Sore Aku Sudah Bahagia


“Keburukan paling buruk di dunia ini adalah lelaki berwajah tampan,” batin Lu-Si kesal di bangku ujung dekat jendela kiri. Y O O, perempuan itu menggambarnya random di kaca jendela yang basah. Hujan sudah mengguyur selama dua jam. Lelaki bernama Yoo Hee-Chae adalah penyebab keterjebakannya di kafe ini.
Waffle set yang Agassi pesan. Silakan dinikmati,” ujar salah satu pelayan di Slow Park.
Gamsahamnida,” jawabnya dengan senyum kikuk kemudian menundukkan badan dengan sopan. Dia hanya bisa menelan ludah begitu melihat perempuan yang mungkin lebih tua darinya itu berlalu. Dia malu, bisa saja dia melihat tingkah konyol Lu-Si.
Lu-Si makan dengan sangat lahap. Dia benar-benar tak merasa kenyang. Benar, ini adalah makanan kedua yang dipesannya. Dia masih ingat dengan sebuah tulisan di website temannya yang kebetulan seorang jurnalistik, ulasan singkat tentang emotional eating. Sepertinya  Lu-Si tengah mengalaminya.
Lu-Si mencoba menghubungi Hee-Chae kembali. Panggilan pertama tak diangkat dan nomor lelaki itu sudah tak aktif pada panggilan kedua. Seharusnya dia percaya dengan kata-kata orang, seperti paparan seorang nenek penjual sayur tadi pagi. Perempuan yang menggelung rambutnya itu mengatakan jika pelaku kejahatan terbaik bagi wanita adalah seorang lelaki tampan. Perkataan lelaki pulalah yang membuat banyak wanita menangis. Lu-Si memilih mengiyakan, malas untuk bicara lebih banyak. Perempuan-perempuan itu saja yang bodoh! Mudah sekali terbawa tipu daya para lelaki berparas dewa.
 Lu-Si, perempuan itu akan mempercayai istilah karma setelah ini. Dia baru menyadari ternyata dirinya juga bodoh seperti perempuan kebanyakan. Apa jangan-jangan semua perempuan itu bodoh, ya? Hanya tidak sadar saja.
Lelah memukuli kepalanya sendiri, dia memutuskan kembali ke flat miliknya yang jauh dari kata nyaman itu, membayar tagihan dan segera pergi meninggalkan lantai dua kafe itu.
Banyak hal yang membuat terlihat bodoh hari ini, tapi ada satu hal sisi kepintarannya. Hari ini dia tak lupa melihat prediksi cuaca di apllikasi ponselnya. Lagi pula sudah seminggu pula hujan mengguyur kota. Tentu tak heran jika hari ini hujan.
Lu-Si membelah malam dengan payung satu-satunya. Payung pemberian mendiang ibunya, warnanya merah dengan motif bunga sakura berwarna putih yang tengah mekar. Walaupun dia sudah mengenakan payung tetaplah saja air hujan membasahi badannya, merembes dari ujung-ujung. Sesekali dia menendang apa-apa yang tak sengaja ditemuinya di jalan, seperti sampah plastik dan kaleng. Jika mungkin bukan karena manusia yang sengaja membuangnya maka bisa juga angin menerbangkannya sampai ke sini.
“Lu-Si! Kim Lu-Si-a! Kau baru pulang?” teriaknya dari depan flat Lu-Si.
Sementara Lu-Si hanya terdiam, membeku di ujung jalan. Dia memerlukan waktu beberapa menit untuk menormalkan pikirannya kembali. Setelah itu barulah dia mendekat kemudian menelitiwajah tampan di depannya. Dia benar-benar bodoh. Dia tengah karma, sepertinya perempuan di luar sana tengah menertawakannya. Dia menarik sedikit sudut bibirnya samar berharap Hee-Chae memperoleh karmanya pula.
“Kau menungguku selama ini?” tanya Hee-Chae tapi tak mendapat jawaban dari Lu-Si,”seharusnya kau pergi saja ketika aku tak ada tanda-tanda untuk datang.”
Lu-Si terkekeh hambar dan berkata,” kau berkata jika kita akan bertemu pukul enam sore dan pukul empat sore aku sudah merasa bahagia.”




Sumber Gambar : Pinterest
Edit : Canva
#ODOPBatch7 #OneDayOnePost #Day1 #GroupValletta



0 komentar:

Posting Komentar