Pages

Minggu, 29 September 2019

Bacakan Lagi!

Sumber : Google



Setelah hari ini berlalu kita akan menjalani hidup yang berbeda. Berjanjilah kau tidak akan berubah, aku takut tidak bisa mengenalimu.
~Riyant


***


Reya memegang erat rantang-wadah bersusun dan bertutup yang merupakan tempat makanan dengan kait sebagai pemegang. Dia sedikit menyembulkan wajahnya di pintu yang terbuka lebar itu-rumah Aji. Dia ragu untuk masuk atau tidak. Dia sudah menyiapkan sop udang tahu pecah. Sedikit bantuan ibunya, sop itu dijamin tidak akan membuat Aji sakit perut.

Berita kepulangan Aji sudah terdengar ke telinganya. Tapi laki-laki itu tidak memberitahu Reya. Reya mengerti jika Aji tidak ingin menyampaikan berita yang kurang menyenangkan itu. Berita-kumpulan gosip dari satu orang ke orang lain yang dapat dibuktikan kebenarannya-menyebar secepat angin menerbangkan benang sari pada putik.

"Ekhemm!" suara khas laki-laki menyentak keterdiaman Reya.

Reya membalikkan badan dan laki-laki yang tampak sedikit kurus dari biasanya-duduk tenang di balik kursi roda. Ah! Pemandangan yang membuat Reya ingin menangis.

"Aku bawa makanan. Tenang, tidak akan membuat sakit perut. Aku dan ibuku sudah menyobanya. Kau belum sarapan 'kan?"

Aji tidak menjawab pertanyaan Reya, dia hanya menggelengkan kepalanya pelan. 

"Mau di dalam apa di sini?" tanya Reya mendominasi. Aji benar-benar menjadi pendiam sekarang. Dulu juga dia pendiam tapi tak seirit sekarang.

"Di sini saja."

Reya meletakkan rantangnya di meja dekat teras kemudian membantu mendorong kursi roda Aji. 

"Makanlah! Aku berusaha mati-matian membuatnya. Kau 'kan tahu aku tidak pandai memasak," menyerahkan nasi yang sudah dituangkan sop juga kepada Aji.

Aji menerimanya pasrah,"Kau juga harus makan. Aku gag mau makan kalau kamu juga gag makan."

"Baiklah, aku juga makan,"Reya mengambil nasi beserta sop buatannya kemudian menyendokkan ke mulutnya dengan lahap. Mereka makan tanpa bersuara. Lama tak bertemu membuat Reya kehabisan topik berbicara.

Reya membereskan rantang itu dan meletakkannya di bawah meja setelah mereka selesai sarapan.

"Kenapa bisa jatuh dari motor, Ji?"

"Biasalah lelaki, balap."

"Sejak kapan suka balap? Dulu kamu 'kan gag pernah balap."

"Tiap orang 'kan bisa berubah," bela Aji.

Membicarakan berubah, kepala Reya berputar pada waktu keberangkatan Aji ke Jakarta.

Setelah hari ini berlalu kita akan menjalani kehidupan yang berbeda. Berjanjilah kau tidak akan berubah, aku takut tidak mengenalimu.

"Apa kamu berpikir aku sudah berubah, Re?"

"Tidak masalah. Setiap orang pasti berubah. Mau gag mau setiap orang akan mengalami perjalanan. Contohnya, coba perhatikan pohon mawar kesukaan ibumu. Daunnya tak selamanya hijau, dia lama-lama akan berubah menguning, layu akhirnya gugur. Itu alamiyah. Kita tidak bisa tinggal di masa yang sama. Jika kita ini manusia yang tidak berkembang dan tinggal di satu masa, sepertinya kita masih melingkarkan tubuh di rahim ibu kita. Pasti sangat menyiksa," jawab Reya.

Reya dan Aji-keduanya-tersenyum bersama.

"Kita boleh berubah, tapi jangan semuanya. Setiap orang punya karakter. Jika karakter selalu berubah sepertinya kita harus menempelkan sampel sidik jari di punggung kita," kata Reya lagi. Aji hanya tersenyum.

"Ah, iya. Aku pulang dulu mengembalikan rantang ini. Aku akan ke sini lagi."

Tidak sampai lima menit, Reya sudah kembali dengan tas kecilnya. Entah apa isinya.

"Kamu bawa apa, Re?"

"Buku cerita anak-anak. Sekarang bacakan lagi seperti dulu," kata Reya menutup mata dan merebahkan tubuh di kursi dekat Aji.

"Kamu tidak pernah berubah ya, Re. Padahal kamu bisa baca sendiri," ujar Aji sambil terkekeh melihat teman masa kanaknya ini memintanya membacakan buku kembali. Mereka berdua sudah tak melakukan kebiasaan ini. Terakhir kali dua belas tahun yang lalu.

"Seperti yang kubilang tadi. Jangan berubah seluruhnya, orang lain tidak akan mengenalimu. Kamu hanya akan menjadi orang asing yang tak berarti apa-apa."


0 komentar:

Posting Komentar