![]() |
| Sumber : Google |
Aku
membaca buku novel yang kemarin kubeli, tapi tak ada kelegaan memelukku. Tulisan
itu nampak kabur di mata, bercarik-carik aku. Lalu wajahmu tiba-tiba menyembul
pada halaman pertama, membuatku tak berniat membacanya kembali. Ada bagian yang
hilang, membuatku tak mengenal arah. Rupanya rindu adalah aku yang mengatakan
tak apa, baik-baik saja walau tak kutemukan bagian yang hilang dari puzzle itu.
Aku
ingat iris matamu, bukan biru maupun hijau daun. Warnanya serupa rambutmu bulan
lalu, cokelat kehitaman. Sayang, bukan itu yang membuatmu cantik. Merindukanmu dan
merindukanmu lagi, terang akal sudah memngembun sejak kemarin. Tertinggal sudah cahaya matamu, entah di mana.
Lagi-lagi, aku menghabis hariku seperti biasa. Menunggumu
dari balik kaca yang tingginya mungkin tiga kali lipat tubuhmu, hambar sebab
terlalu merindu.
Mataku
mengeja tiap bentuk motif yang tergambar di dalamnya---dipan tua---peninggalan
kakek. Semestinya duduk sendiri di dipan tua itu bukan suatu perkara yang sarat
reka-reka ataupun kejanggalan yang tak sengaja terputar. Sayang, selalu ada
hilang dan kosong sebab aku begitu riuh mengelukan rindu.
Aku
melupakan semuanya dan merasa lega, pikirku. Tapi bulan sepotong melahapnya
tanpa kasih. Walau angin yang membawa
deru malam ini berbisik ‘tak apa’, aku seperti terpenjara dalam
penjara. Ah, jangan kubur aku.
Masih,
aku terlalu merindu hingga membuat peluh tak berhenti pula. Lalu segala macam
kertas berhambur menyerukan hidupku yang lumayan berantakan, serupa kusut
rambutku begitu bangkit dari lelap yang jauh dai lelap. Aku merindukanmu,
sangat.

0 komentar:
Posting Komentar