Pages

Selasa, 17 September 2019

Senandika : Rindu

Sumber : Google


Aku membaca buku novel yang kemarin kubeli, tapi tak ada kelegaan memelukku. Tulisan itu nampak kabur di mata, bercarik-carik aku. Lalu wajahmu tiba-tiba menyembul pada halaman pertama, membuatku tak berniat membacanya kembali. Ada bagian yang hilang, membuatku tak mengenal arah. Rupanya rindu adalah aku yang mengatakan tak apa, baik-baik saja walau tak kutemukan bagian yang hilang dari puzzle itu.

Aku ingat iris matamu, bukan biru maupun hijau daun. Warnanya serupa rambutmu bulan lalu, cokelat kehitaman. Sayang, bukan itu yang membuatmu cantik. Merindukanmu dan merindukanmu lagi, terang akal sudah memngembun sejak kemarin. Tertinggal  sudah cahaya matamu, entah di mana.

Lagi-lagi,  aku menghabis hariku seperti biasa. Menunggumu dari balik kaca yang tingginya mungkin tiga kali lipat tubuhmu, hambar sebab terlalu merindu.

Mataku mengeja tiap bentuk motif yang tergambar di dalamnya---dipan tua---peninggalan kakek. Semestinya duduk sendiri di dipan tua itu bukan suatu perkara yang sarat reka-reka ataupun kejanggalan yang tak sengaja terputar. Sayang, selalu ada hilang dan kosong sebab aku begitu riuh mengelukan rindu.

Aku melupakan semuanya dan merasa lega, pikirku. Tapi bulan sepotong melahapnya tanpa kasih. Walau angin yang membawa  deru malam ini berbisik ‘tak apa’, aku seperti terpenjara dalam penjara. Ah, jangan kubur aku.

Masih, aku terlalu merindu hingga membuat peluh tak berhenti pula. Lalu segala macam kertas berhambur menyerukan hidupku yang lumayan berantakan, serupa kusut rambutku begitu bangkit dari lelap yang jauh dai lelap. Aku merindukanmu, sangat.



0 komentar:

Posting Komentar