![]() |
| Sumber : Google |
Pleonasme
adalah penggunaan kata yang berlebihan dalam suatu kalimat di mana kata
tersebut bisa dihilngkan. Jika Shei merasa tak terima dan marah apa sikapnya
juga berlebihan sehingga ia harus menghilangkannya?
Shei menarik kursi kosong di hadapan Dea. Memesan
minuman sepertinya, Ice Cappucino. Di luar sedang hujan. Lumayan lebat. Hoodie
yang ia kenakan sedikit basah. Menembus hujan.
Shei melirik Dea yang sangat menikmati minumannya. Tidak
merasa terganggu dengan kehadirannya. Sikap yang tenang dan tegas.
“Menghabiskan waktu di tengah hujan
sendirian. Menikmati minuman dingin dalam suasana yang dingin. Kurasa kau
berada dalam sebuah keadaan yang bisa kusebut menyenangkan?”
Dea hanya melihat Shei sekilas, lalu
meletakkan gelasnya. Menggosokkan kedua telapak tangan, lalu menngusapkannya ke
kedua pipinya. Mencoba mengghangatkan badannya yang sudah mulai kedinginan.
Shei meminum pesanannya yang
baru saja diantar pelayan.
“Ice Cappucino. Tidak sepenuhnya
pilihan yang buruk. Ternyata bisa mengurangi panas kepalaku.”
Shei membuang napas kasar. Kesal.
Tidak mendapatkan respon lawan bicaranya. Apa dia pikir Shei itu radio yang tak
perlu ditanggapin secara langsung oleh pendengar?
“Aku ini manusia, kau juga. Manusia
adalah kumpulan emosi. Jika dilihat dari sisi kedudukan, seorang manusia bisa
disebut individu. Hidup bernegara dan bermasyarakat. Setiap negara punya aturan
masing-masing. Kau tak suka aturan ya? Tapi aku suka.”
“Aku bukan manusia setengah dewa yang akan tersenyum
dalam setiap keadaan. Aku sudah memberimu kesempatan. Tapi secara tidak
langsung dan tanpa sadar kau kemintaku untuk mematahkan tulangmu. Apa kau pikir
aku main-main? Ingat, aku bukan ibumu. Tak ada alasan untuk merasa bersalah
bukan?” lanjutnya lagi.
Shei berdiri dari kursi dan berniat
beranjak pergi meninggalkan Dea. Ia
lelah bermonolog.
“Aku pulang. Aku akan mengunci pintu
dari dalam. Kau bawa kunci juga ‘kan? Kukira perbedaan yang menyakitkan adalah
perbedaan agama, ras ataupun kedudukan sosial. Ternyata perbedaan prinsip dan
tujuan hidup lebih mengerikan. Dua orang dengan prinsip yang berbeda memang
harus berusaha lebih keras agar dapat hidup berdampingan. Lalu siapa yang
salah? Aku yang mengingnkanmu segera membersihkan masalahmu atau kamu yang
memang tidak mau mendengarku? Lalu bagaimana caranya agar kamu mau mendengar?
Apa imi termasuk sebuah aturan?”
Shei membawa pulang perasaan
marahnya bersamaan hujan yang belum mereda juga. Ia masih tidak terima. Tidak
menyangka ia harus berada dalam masalah bersama Dea.
Sebelum benar-benar keluar dari
kedai itu ia berbalik ke arah teman sekamarnya itu.
“Apa itu sulit? Apa aku berlebihan
untuk memintamu mengerti keadaanku? Bersihkan kamarmu sebelum pemilik gedung
melakukan operasi! Apa kau menungguku yang melakukannya? Lalu berapa
bayaranku?”

0 komentar:
Posting Komentar