![]() |
| Sumber : Google |
Kehidupan tidak selalu manis. Kadang terasa pahit ... seperti secangkir kopi di hadapanku ini.
~Riyant
***
Aku mengambil ponsel yang kusimpan di tas selempang kecilku. Membuka lockscreen kemudian memainkan permainan teka-teka silang yang kemarin baru saja kuunduh.
Ketika aku baru memasuki level lima, aku menghentikan permainan. Rasa 'bosan' sudah mendominasi. Aku membuka snap di instagram dan whatsapp. Aku menutupnya kembali karena tidak ada hal yang menarik.
Tatapanku tertuju kembali pada minuman bersenyawa alkaloid itu. Dibanding americano dan cappuccino, lidahku lebih menyukai latte. Kali ini aku memesan minuman pahit manis itu dengan gambar 'lebah penghisap madu' di permukaan atasnya. Orang-orang menyebut seni ini dengan istilah 'latte art'. Aku yang kurang tahu teknik semacam itu hanya mengangguk setuju saat beberapa barista mengajakku berbicara.
Kopi panas di hadapanku ini dari tadi sudah mengepulkan asapnya. Menarik kendaliku agar segera menyesapnya. Tapi aku hanya diam mengabaikannya. Membiarkannya dingin seperti suasana malam ini. Hujan di luar masih cukup deras.
Bibirku bergetar, sepertinya udara di kedai ini lama-lama mendingin. Sementara itu kedua tanganku mengepal erat di saku jaketku. Sayangnya aku tetap merasa dingin, jaket tipis ini tidak berhasil mengembalikan suhu tubuhku. Tiba-tiba aku merindukan ranjang tidur dan selimut tebal kesayanganku. Rasanya aku ingin segera kembali menuju kos kemudian meringkuk di bawah selimut menyembunyikan raga.
Aku segera bergegas pergi meninggalkan kedai ketika hujan mulai mereda. Cuaca seringkali berubah-ubah. Aku meninggalkan kedai tua itu dengan mantap. Kopi yang belum tersentuh sepertinya bakal kesal kepadaku.
Pukul 9 malam, aku baru sampai di kosku yang kecil. Saat aku membuka pintu, angin dingin menusuk tulang pipiku. Langkahku terhenti saat melihat secangkir kopi yang sudah dingin di meja belajarku. Rupanya aku sudah membuat kopi sebelum pergi ke kedai.

0 komentar:
Posting Komentar