Pages

Minggu, 29 September 2019

A Cup of Coffe

Sumber : Google


Kehidupan tidak selalu manis. Kadang terasa pahit ... seperti secangkir kopi di hadapanku ini.
~Riyant

***


Aku mengambil ponsel yang kusimpan di tas selempang kecilku. Membuka lockscreen kemudian memainkan permainan teka-teka silang yang kemarin baru saja kuunduh.

Ketika aku baru memasuki level lima, aku menghentikan permainan. Rasa 'bosan' sudah mendominasi. Aku membuka snap di instagram dan whatsapp. Aku menutupnya kembali karena tidak ada hal yang menarik.

Tatapanku tertuju kembali pada minuman bersenyawa alkaloid itu. Dibanding americano dan cappuccino, lidahku lebih menyukai latte. Kali ini aku memesan minuman pahit manis itu dengan gambar 'lebah penghisap madu' di permukaan atasnya. Orang-orang menyebut seni ini dengan istilah 'latte art'. Aku yang kurang tahu teknik semacam itu hanya mengangguk setuju saat beberapa barista mengajakku berbicara.

Kopi panas di hadapanku ini dari tadi sudah mengepulkan asapnya. Menarik kendaliku agar segera menyesapnya. Tapi aku hanya diam mengabaikannya. Membiarkannya dingin seperti suasana malam ini. Hujan di luar masih cukup deras.

Bibirku bergetar, sepertinya udara di kedai ini lama-lama mendingin. Sementara itu kedua tanganku mengepal erat di saku jaketku. Sayangnya aku tetap merasa dingin, jaket tipis ini tidak berhasil mengembalikan suhu tubuhku. Tiba-tiba aku merindukan ranjang tidur dan selimut tebal kesayanganku. Rasanya aku ingin segera kembali menuju kos kemudian meringkuk di bawah selimut menyembunyikan raga.

Aku segera bergegas pergi meninggalkan kedai ketika hujan mulai mereda. Cuaca seringkali berubah-ubah. Aku meninggalkan kedai tua itu dengan mantap. Kopi yang belum tersentuh sepertinya bakal kesal kepadaku.

Pukul 9 malam, aku baru sampai di kosku yang kecil. Saat aku membuka pintu, angin dingin menusuk tulang pipiku. Langkahku terhenti saat melihat secangkir kopi yang sudah dingin di meja belajarku. Rupanya aku sudah membuat kopi sebelum pergi ke kedai.

Kasih, Marah, dan Dendam






Sumber : Google


Dua anak perempuan dilahirkan, tumbuh mengeja
Tiada satu pun kesukaan Bapa
Buang saja ke Laut Jawa
Aku ini orang papa, katanya

Pada langit yang menggelap, kian merasa sesak
Sang fajar bahkan takut nampak
Hati yang baru saja mau tumbuh, luruh
Tersesat dalam belenggu

Luka lebam telah menjamur di wajah
Tambah nyata ditimpa purnama
Ketakutan kian meraba seiring pekatnya malam
Tertidur dalam dekap Mamak yang sembunyi meratap

Keduanya titipan Tuhan, kata Mamak
Sayang, Bapa tak juga lega
Menutup mata dan telinga
Lalu kemarahan membuncah pada jiwa muda yang tak tahu apa-apa

Putri-putri Mamak sudah besar
Katanya menghalau kami yang bertekad tolak menuju Tanjung Emas
Kasih, marah dan dendam memenuhi kepala
Kala melihat raga renta Bapa di dipan depan

[Roommate]

Sumber : Google



Pleonasme adalah penggunaan kata yang berlebihan dalam suatu kalimat di mana kata tersebut bisa dihilngkan. Jika Shei merasa tak terima dan marah apa sikapnya juga berlebihan sehingga ia harus menghilangkannya?

Shei  menarik kursi kosong di hadapan Dea. Memesan minuman sepertinya, Ice Cappucino. Di luar sedang hujan. Lumayan lebat. Hoodie yang ia kenakan sedikit basah. Menembus hujan.

Shei melirik  Dea yang sangat menikmati minumannya. Tidak merasa terganggu dengan kehadirannya. Sikap yang tenang dan tegas.

“Menghabiskan waktu di tengah hujan sendirian. Menikmati minuman dingin dalam suasana yang dingin. Kurasa kau berada dalam sebuah keadaan yang bisa kusebut menyenangkan?”

Dea hanya melihat Shei sekilas, lalu meletakkan gelasnya. Menggosokkan kedua telapak tangan, lalu menngusapkannya ke kedua pipinya. Mencoba mengghangatkan badannya yang sudah mulai kedinginan.
            
Shei meminum pesanannya yang baru  saja diantar pelayan.
            
“Ice Cappucino. Tidak sepenuhnya pilihan yang buruk. Ternyata bisa mengurangi panas kepalaku.”
            
Shei membuang napas kasar. Kesal. Tidak mendapatkan respon lawan bicaranya. Apa dia pikir Shei itu radio yang tak perlu ditanggapin secara langsung oleh pendengar?
           
“Aku ini manusia, kau juga. Manusia adalah kumpulan emosi. Jika dilihat dari sisi kedudukan, seorang manusia bisa disebut individu. Hidup bernegara dan bermasyarakat. Setiap negara punya aturan masing-masing. Kau tak suka aturan ya? Tapi aku suka.”
            
“Aku bukan   manusia setengah dewa yang akan tersenyum dalam setiap keadaan. Aku sudah memberimu kesempatan. Tapi secara tidak langsung dan tanpa sadar kau kemintaku untuk mematahkan tulangmu. Apa kau pikir aku main-main? Ingat, aku bukan ibumu. Tak ada alasan untuk merasa bersalah bukan?” lanjutnya lagi.
            
Shei berdiri dari kursi dan berniat beranjak pergi  meninggalkan Dea. Ia lelah bermonolog.
           
“Aku pulang. Aku akan mengunci pintu dari dalam. Kau bawa kunci juga ‘kan? Kukira perbedaan yang menyakitkan adalah perbedaan agama, ras ataupun kedudukan sosial. Ternyata perbedaan prinsip dan tujuan hidup lebih mengerikan. Dua orang dengan prinsip yang berbeda memang harus berusaha lebih keras agar dapat hidup berdampingan. Lalu siapa yang salah? Aku yang mengingnkanmu segera membersihkan masalahmu atau kamu yang memang tidak mau mendengarku? Lalu bagaimana caranya agar kamu mau mendengar? Apa imi termasuk sebuah aturan?”
            
Shei membawa pulang perasaan marahnya bersamaan hujan yang belum mereda juga. Ia masih tidak terima. Tidak menyangka ia harus berada dalam masalah bersama Dea.
           
Sebelum benar-benar keluar dari kedai itu ia berbalik ke arah teman sekamarnya itu.
            
“Apa itu sulit? Apa aku berlebihan untuk memintamu mengerti keadaanku? Bersihkan kamarmu sebelum pemilik gedung melakukan operasi! Apa kau menungguku yang melakukannya? Lalu berapa bayaranku?”

Bacakan Lagi!

Sumber : Google



Setelah hari ini berlalu kita akan menjalani hidup yang berbeda. Berjanjilah kau tidak akan berubah, aku takut tidak bisa mengenalimu.
~Riyant


***


Reya memegang erat rantang-wadah bersusun dan bertutup yang merupakan tempat makanan dengan kait sebagai pemegang. Dia sedikit menyembulkan wajahnya di pintu yang terbuka lebar itu-rumah Aji. Dia ragu untuk masuk atau tidak. Dia sudah menyiapkan sop udang tahu pecah. Sedikit bantuan ibunya, sop itu dijamin tidak akan membuat Aji sakit perut.

Berita kepulangan Aji sudah terdengar ke telinganya. Tapi laki-laki itu tidak memberitahu Reya. Reya mengerti jika Aji tidak ingin menyampaikan berita yang kurang menyenangkan itu. Berita-kumpulan gosip dari satu orang ke orang lain yang dapat dibuktikan kebenarannya-menyebar secepat angin menerbangkan benang sari pada putik.

"Ekhemm!" suara khas laki-laki menyentak keterdiaman Reya.

Reya membalikkan badan dan laki-laki yang tampak sedikit kurus dari biasanya-duduk tenang di balik kursi roda. Ah! Pemandangan yang membuat Reya ingin menangis.

"Aku bawa makanan. Tenang, tidak akan membuat sakit perut. Aku dan ibuku sudah menyobanya. Kau belum sarapan 'kan?"

Aji tidak menjawab pertanyaan Reya, dia hanya menggelengkan kepalanya pelan. 

"Mau di dalam apa di sini?" tanya Reya mendominasi. Aji benar-benar menjadi pendiam sekarang. Dulu juga dia pendiam tapi tak seirit sekarang.

"Di sini saja."

Reya meletakkan rantangnya di meja dekat teras kemudian membantu mendorong kursi roda Aji. 

"Makanlah! Aku berusaha mati-matian membuatnya. Kau 'kan tahu aku tidak pandai memasak," menyerahkan nasi yang sudah dituangkan sop juga kepada Aji.

Aji menerimanya pasrah,"Kau juga harus makan. Aku gag mau makan kalau kamu juga gag makan."

"Baiklah, aku juga makan,"Reya mengambil nasi beserta sop buatannya kemudian menyendokkan ke mulutnya dengan lahap. Mereka makan tanpa bersuara. Lama tak bertemu membuat Reya kehabisan topik berbicara.

Reya membereskan rantang itu dan meletakkannya di bawah meja setelah mereka selesai sarapan.

"Kenapa bisa jatuh dari motor, Ji?"

"Biasalah lelaki, balap."

"Sejak kapan suka balap? Dulu kamu 'kan gag pernah balap."

"Tiap orang 'kan bisa berubah," bela Aji.

Membicarakan berubah, kepala Reya berputar pada waktu keberangkatan Aji ke Jakarta.

Setelah hari ini berlalu kita akan menjalani kehidupan yang berbeda. Berjanjilah kau tidak akan berubah, aku takut tidak mengenalimu.

"Apa kamu berpikir aku sudah berubah, Re?"

"Tidak masalah. Setiap orang pasti berubah. Mau gag mau setiap orang akan mengalami perjalanan. Contohnya, coba perhatikan pohon mawar kesukaan ibumu. Daunnya tak selamanya hijau, dia lama-lama akan berubah menguning, layu akhirnya gugur. Itu alamiyah. Kita tidak bisa tinggal di masa yang sama. Jika kita ini manusia yang tidak berkembang dan tinggal di satu masa, sepertinya kita masih melingkarkan tubuh di rahim ibu kita. Pasti sangat menyiksa," jawab Reya.

Reya dan Aji-keduanya-tersenyum bersama.

"Kita boleh berubah, tapi jangan semuanya. Setiap orang punya karakter. Jika karakter selalu berubah sepertinya kita harus menempelkan sampel sidik jari di punggung kita," kata Reya lagi. Aji hanya tersenyum.

"Ah, iya. Aku pulang dulu mengembalikan rantang ini. Aku akan ke sini lagi."

Tidak sampai lima menit, Reya sudah kembali dengan tas kecilnya. Entah apa isinya.

"Kamu bawa apa, Re?"

"Buku cerita anak-anak. Sekarang bacakan lagi seperti dulu," kata Reya menutup mata dan merebahkan tubuh di kursi dekat Aji.

"Kamu tidak pernah berubah ya, Re. Padahal kamu bisa baca sendiri," ujar Aji sambil terkekeh melihat teman masa kanaknya ini memintanya membacakan buku kembali. Mereka berdua sudah tak melakukan kebiasaan ini. Terakhir kali dua belas tahun yang lalu.

"Seperti yang kubilang tadi. Jangan berubah seluruhnya, orang lain tidak akan mengenalimu. Kamu hanya akan menjadi orang asing yang tak berarti apa-apa."


Sabtu, 28 September 2019

Review Novel After D-100


Judul               : After D-100
Penulis             : Park Mi Youn
Penerjemah      : Putu Pramania Adnyana
Penerbit           : Haru

After D--100 adalah novel terjemahan asal Korea Selatan yang ditulis oleh Park Mi Youn. Novel ini bercerita tentang kisah kehidupan pernikahan tanpa keterbukaan. Tak ada gading yang tak retak sangat menggambarkan alur cerita ini.

Cerita ini dimulai dengan alur Gyung Hee yang mulai bosan dengan pernikahannya sebab sikap Jung Chul yang dingin. Keadaan tersebut didukung kejadian tak terduga, Gyung-Hee tak sengaja mendengarkan percakapan antara suami dan kakak kandungnya yang mengatakan bahwa lelaki itu tidak pernah memncintainya tetapi hanya perlu menikah.

“…aku tidak pernah mendefinisikan bahwa suamiku adalah orang seperti ini dan seperti itu. Aku menerima sikapnya apa adanya. Ibaratnya seperti spons yang menyerap air, begitulah aku hidup selama ini. Menerima semuanya begitu saja.”  (Kang Gyung Hee, halaman 79)

Selama ini, Gyung Hee merasa bahagia dengan pernikahannya yang berusia dua tahun. Pernikahan yang terjadi begitu cepat karena para orang tualah yang mengambil keputusan tanpa meminta pertimbangan darinya maupun dari Lee Jung Chul. Dan selama ini pula, Gyung Hee sudah memberikan segalanya dan menuruti semua permintaan Jung Chul.

Gyung Hee memutuskan akan menceraikan Jung Chul dalam seratus hari. Dia bertekat membalas sakit hatinya pada Lee Jung Chul. Kemunculan Mina, mantan kekasih Jung Chul yang secara terang-terangan berniat menggoda Jung Chul kembali membuatnya Gyung Hee yakin dengan keputusannya itu.

Kang Gyung Hee benar-benar mempersiapkan dirinya sebelum perceraian itu terjadi. Dia membuka sebuah toko tas dengan bantuan sahabatnya, Jung Woo. Dia berharap, semoga toko itu bisa membuatnya hidup mandiri. Namun masalah tak pernah memnghampiri Gyung Hee, dia kerap kali dipertemukan dengan Mina yang selalu mencoba membuatnya marah. Mina ternyata juga bekerja dengan In Sik, pemilik tanah toko tasnya itu.

Adegan-adegan terus berlanjut sampai di titik klimaks di mana Gyung Hee mengetahui rahasia yang selama ini disembunyikan Jung Chul, dari pernikahan tanpa cinta, riwayat pengobatan kejiwaan hingga kemandulan yang ternyata tidak dialami diasaja melainkan juga lelaki itu. Selain itu, Gyung Hee pada mulanya memiliki sedikit kesempatan mendapatkan keturunan malah jadi sirna begitu tahu ternyata dokter yang menaganinya, sepupu Jung Chul menjadikannya sebagai malpraktek peneitiannya. Hal inilah yang mengundang kemarahan keluar Gyung Hee dan meminta meneruskan gugatan cerai tersebut.

Gaya bahasa yang digunakan penulis sederhana dan mengalir dengan tokoh tidak digambarkan gambalang, melainkan melalui deskripsi-deskripsi tiap bab ceritanya. Penulis menggunakan sudut pandang orang pertama sebagai pelaku utama yaitu dari sisi Gyung Hee dan Jung Chul walau secara komposisi lebih dominan sudut pandang dari Gyung Hee.

Karakter lain banyak bermunculan di sini, tapi kedudukannya hanya sebagai bumbu kisah mereka berdua. Walaupun begitu karakter-karakter itu berperan sangat apik dalam menyampaikan tujuannya, seperti Mina, In Sik, Jung Woo, orang tua Gyung Hee, dan orang tua Jung Chul.

Satu hal yang perlu diperhatikan sebagai pembaca, novel ini bergenre dewasa sebab mengisahkan sebuah pernikahan maka dari itu bagi yang belum cukup umur jangan membaca dulu, ya. Sebenarnya pun adegan dewasa di sini hanyalah bumbu agar cerita ini semakin hidup. Satu lagi hampir kelupaan, jangan lupa sedia tisu sebelum membaca.

Minggu, 22 September 2019

Bagaimana genre Tulisanmu?

Sumber : Google

Ketika kamu mendengar kata ‘menulis’ atau ‘penulis’, hal pertama apa yang melintas di kepalamu?

“Kamu suka menulis tulisan model seperti apa?”
Pertanyaan semacam itu pastilah menghampiri beberapa orang. Tidak bisa kita pungkiri bahwa setiap orang punya kecenderungan. Tentu tak asing jika ada seseorang yang cenderung introvert, atau ada beberapa yang lainnya masuk ke dalam kelompok ekstrovert. Kenyataanya kecenderungan juga berlaku dalam teknik menulis, meski itu penulis serba bisa pun. Tentulah istilah genre dan aliran tak bisa lepas mengelupas dari jiwa penulis.

Bagaimana dengan genremu? Coba ceritakan!

Berbicara genre juga  tak bisa lepas dari aliran. Walau seseorang serba bisa di banyak aspek, tentulah ada hal istimewa di antara yang lainnya.

Jika diminta menjelaskan apa genreku tentulah kosong kertas yang diberikan itu. Bukan karena tak ada yang bisa dituliskan tetapi aku sudah tahu jika cerita tak bisa termuat seluruhnya.
Semua genre dan aliran pnya cerita, tiap penulis punya nyawa masing-masing. Berbicara mengenai menulis tak ada habisnya dan lelahnya pun. Terus belajar menjadi tuntutan tiap orang, tapi ada hal yang mesti diakui. Walaupun sudah mencoba berbagai genre kurasa aku begitu nyaman dengan genre drama dengan aliran sad open ending.

Kenapa?
Sebuah pertanyaan yang kadang-kadang terlintas begitu saja. Hal ini tidak bisa kujelaskan sebab tiap orang punya nyawa masing-masing di tulisannya.

Bagaimana dengan genremu? Samakah?

Merindukanmu

Edit : Canva

Bersama waktu yang belalu
Roh jauh dari lega
Seperti rambut kusutmu ketika terbangun
Hari-hariku berantakan

Dapat kautemukan kegilaanku di setiap sisi
Terasa seperti bulan terbit di siang hari
Aku kehilangan akal
Mabuk laut di tengah labirin

Kau di bawah cahaya, hanya ilusi
Maka mata gelapmu memenuhiku
Melayang kakiku, tinggi
Aku menekan kepala, runtuh

Sayang, hatiku masih membara
Berharap menemukanmu seperti takdir
Meminta kembali pada Tuhan
Supaya kenangan kemarin tak padam

Selalu ada helaan berat yang mengisi
Bak hujan yang turun di hari yang cerah
Kepala kembali meringkuk
Pada ingatan tentangmu yang tak mampu kubuang