“Untuk satu minggu ke depan
diperkirakan mulai esok hari akan terjadi badai salju di sekitaran Jongno-gu.
Diharapkan para pendengar untuk berjaga-jaga.”
Kabar berita yang sudah menjadi
kebiasaan tiap tahunnya. Jadilah perempuan berwajah tirus itu lebih seperti
mengabaikannya. Dia menyesap kopi yang beberapa menit lalu terabaikan. Rasanya
pahit dan manis, tapi lebih dominan berasa pahit. Dia menaikkan sudut bibir
kirinya, tertawa sumbang yang nyaris tak bisa didengar pengunjung lain.
Sayu, kedua matanya menatap ke
depan. Salju sedikit menutupi jalanan ditambah dengan keadaan malam hari, tentu
pantas saja jika atmosfer yang menyelubungi kota itu begitu dingin. Berkenaan
dengan yang lainnya sudah pasti luaran Cafe Gaeppul ini pun ikut dipenuhi salju,
mungkin di beberapa spot.
Na
Haerin mengeratkan lagi kepalan tangan di saku mantel guna menghalau dingin
yang membungkus badannya. Sialnya mantel yang melekat pada tubuh kecilnya itu
tidak berguna. Tetap saja dia merasakan kedinginan. Alih-alih merindukan
ranjang dan selimut tidur yang ketika membungkus badan akan terasa hangat,
rasanya dia memilih untuk tidak pulang malam ini. Jika saja bangunan bercat
kuning melon itu buka sepanjang hari, dia akan tetap tinggal. Hanya duduk dan
berdiam diri.
Sebuah
kotak sepatu lengkap dengan sepatunya di meja itu tak pernah lepas dari
pengawasannya, seperti jika dilewatkan barang beberapa detik saja benda itu
menguap seperti kenangan yang sebelumnya berputar di kehidupannya, hilang dan
terlempar jauh karena medan magnetnya sudah hilang. Percakapan yang kebanyakan
dia jadi pendengar berputar pendar lagi memenuhi kepala.
“Bagaimana kamu tahu
aku sangat menginginkan sepatu ini? Bahkan kamu juga tahu ukuran sepatuku?”
“Semua perempuan akan
menyukai sepatu cantik ini. Bagaimana aku tak tahu ketika kemarin kita memasuki
beberapa toko di sepanjang Carrall St. kamu memandanginya tanpa berkedip. Jika
saja aku tak menarikmu keluar, mungkin kamu hanya akan memandanginya seharian
tanpa berniat membelinya.”
“Bukannya aku tak
memiliki uang untuk membelinya. Hanya saja merasa sangat sayang jika uang yang
kukumpulkan susah payah cukup berubah wujud menjadi sepasang sepatu di mana tak mungkin kupakai dalam keseharian.
Sepatu itu terlalu cantik kuajak belarian.”
“Ahahaha! Kurasa
humorku payah. Simpanlah uangmu untuk yang lebih penting. Aku sebenarnya
berniat ke rumah untuk memberikannya kepadamu. Ternyata malah ketemu di sini.”
“Itu artinya kita
berjodoh.”
“Kurasa kita memang
berjodoh. Baiklah, simpan baik-baik. Ini adalah sepatu istimewa untukorang
istimewa dan harus dipakai di hari istimewa. Oh ya, aku tahuukuran sepatumu
dari Yerin.”
“Hari istimewa?”
“Kamu tahu ‘kan aku
bukan tipe pria yang suka menjalin hubungan sejenis berpacaran? Walaupun aku
tidak apa perasaannya terhadapku tapi kurasa dia menangkap signal-signal yang
kuberikan selama ini. Aku ingin menikah dengan Yerin. Kamu harus mendukungku.”
Kim
Jaehun sudah lama pergi, katanya dia ingin menjemput Yerin. Lelaki itu sudah
berniat pula mengajak Haerin pulang bersama tetapi ditolaknya dengan alibi dia
masih menunggu seorang teman.
Apa dia bilang?
Menangkap signal darinya? Bahkan dia tak menangkap signal dariku? Kenapa aku
begitu kesal? Haerin mengusap kasar wajahnya. Kesal,
marah, dan perasaan tidak terima bergabung menjadi satu. Dia mengambil buku harian
tua miliknya, ada aroma kayu keluar dari buku itu. Mengisinya dengan beberapa
kalimat tanpa minat.
Cafe Daeppul, 24/11
Pangeran kuda putihku
akan menikah dengan kakakku. Walaupun aku tak ingin mengambil peran, sudah
pastilah aku menjadi pihak yang bertanggungjawab dalam resepsi nanti. Aku
seorang wedding organizer.
---
Angin
bertiup semakin kencang. Dia memang pekerja keras. Usahanya yang bertujuan
membuat Haerin menggigil kedinginan berhasil. Dia masih berdiri mematung di
jalanan yang dipenuhi salju. Dia mengeluarkan dua kunci, menimang mana
sebaiknya yang dia pilih. Kunci rumah di sebelah kanan dan di tangan kiri dia
menggenggam kunci kantor. Sebenarnya dia lebih memilih tidur di kafe itu.
Sayang, pemilikmya sudah mengusirnya, meminta dia segera pulang.
“Baiklah
aku akan bermalam di kantor saja,” ucap Haerin berbelok ke arah kiri. Belum
sampai sepuluh langkah kakinya berhenti. “Tapi di kantor tak ada ranjang dan
bantal, aku bisa tambah sakit. Tapi di rumah pasti ketemu kakak.”
“Baik-baik!
Aku akan pulang ke rumah. Lagi pula pasti kakak sudah tidur. Aku belum siap
bertemu dengannya,” pungkasnya.
Sesampai
di tujuan, Haerin mengendap-endap masuk seperti maling taku ketahuan. Wajahnya
menjadi pucat pasi, lampu menyala tepat dia menutup pintu utama.
“Kenapa
baru pulang?”
Dilihatnya
sang kakak, Yerin, berdiri sedekap tak jauh darinya. Sial. Dia ketahuan. Tak
biasa kakaknya itu masih terjaga. Haerin rupanya tengah kurang beruntung.
“Biasa,
Kak. Aku ketiduran di kafe. Bahkan aku dibangunkan pemiliknya langsung,” bela
Haerin sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Untung
saja Ayah tidak jadi pulang hari ini. Kalau tidak, kamu pasti kena marah. Ya
sudah Kakak kembali tidur lagi. Lain kali jangan diulangi. Oh ya, Ayah pulang
dua hari lagi.”
Haerin
tak menjawab dan kakaknya pun sudah menaiki tangga menuju kamarnya yang berada
di lantai dua. Dia pun menyusul menunju lantai dua, membawa badan dan hatinya
yang mendingin.
Haerin
meletakakkan sepatu pemberian jaehun di atas nakas. Sedang dirinya langsung
melemparkan badan menuju ranjang tanpa berniat mandi atau sekadar mengganti
pakaiannya yang sedikit basah. Haerin tak bisa tidur. Dia lebih memilih menatap
langit-langit kamarnya tanpa berkedip. Hidup
ini ajaib. Segala hal yang kutulis dalam wish list tak pernah tergapai. Baiklah
aku menginginkan sepatu itu. tapi aku tak pernah menuliskannya.
---
“Kenapa
wajahmu kusut begitu? Bangun kesiangan ya? Terus lupa nyetrika. Hahaha!” ejek
teman seprofesinya, Lee Hyunso yang
diakhiri tertawa yang lumayan nyaring. Untung saja yang lainnya belum datang.
“Benar-benar
menyebalkan! Carilah target lain hari ini. Aku sedang tak ingin diganggu. Lebih
baik kamu temui klienmu itu. mengganggu saja!”
“Seperti
habis ditolak saja kamu ini. Apa jangan-jangan kamu habis ditolak Jaehun
beneran, ya. Malangnya nasibmu, ahahaha!”
“Haerin!
Apa-apaan kamu ini? Lihat bajuku jadi basah. Aku harus menemui anak Park Jaeho
hari ini. Masa iya aku harus bertelanjang dada, bisa berakhirlah aku di dapur
hotelnya menjadi santapan pengunjung kanibal,” pekik Hyunso tak terima dengan
perbuatan Haerin. Ya, Haerin menyiramkan air mineral yang baru saja diambilnya
ke arah Hyunso.
“Aku
tidak peduli. Salah sendiri menggangguku duluan. Itu imbalan yang setimpal.
Kamu pasti belum mandi ‘kan. Seharusnya kamu berterima kasih aku sudah berbaik
hati memanndikanmu.”
“Haerin!
Awas ya,” teriak lelaki itu kemudian mengejar Haerin berusaha menempelkan
badannya yang basah ke badan Haerin agar dia ikut basah kuyup sama sepertinya.
Mereka
terus belarian dan bekerjaran, tidak memedulikan kantor sebentar lagi akan
ramai. Bahkan keduanya tak menyadari kehadiran atasan mereka yang sudah
bergeleng kepala.
“Kalian
sedang apa? Ini kantor bukan taman bermain. Dan kenapa bajumu basah? Mau
kupotong gaji kalian?”
Keduanya
menunduk, tidak berani menjawab. Segera mereka mengangkat kepala masing-masing
begitu Oh Daeyeol, atasan mereka berlalu.
“Ini
gara-gara ulahmu, Haerin!”
“Kamu
menyalahkanku? Bahkan kamu sudah membuat bajuku ikutan basah. Dasar lelaki
tidak peka! Temanmu ini butuh hiburan bukan malah dibuat marah-marah,” ujar
Haerin sedih tanpa menatapnya. Haerin kembali menuju meja kerjanya. Hyunso
benar-benar kaget mendapat tanggapan sedemikian. Tidak biasanya dia melihat
raut wajah Haerin seperti hari ini.
---
“Kamu harus tahu perempuan itu suka
mambuat suatu hal menjadi rumit yang sebenarnya terlihat sederhana. Ini lebih
dari penolakan. Sebelum aku sempat mengatakannya, dia sudah penyataan seperti
itu. Kurasa sahabatmu itu tidak ingin menolak ataupun menyakiti perempuan lain.
Tapi tetap saja aku belum menerima hal itu dengan lapang dada.”
“Lalu apa rencanamu?”
“Tidak ada.”
“Sudahlah lupakan dia. Aku punya
beberapa rencana.”
“Apa memnggagalkan pernikahan mereka
adalah termasuk salah satu rencanamu?”
“Aku tidak pernah memikirkan hal
itu.”
“Haerin berkencanlah!”
“Dasar Hyunso bodoh! Kamu kira
berkencan itu mudah? Kamu memintaku berkencan seperti memintaku makan saja.”
“Aku punya banyak kenalan yang bisa
diajak berkencan buta. Siapa tahu ada yang berjodoh.”
“Hyunso bodoh!”
“Berhentilah mengatakan aku
bodoh.padahal akusudah berusaha keras menghiburmu. Haerin! Jika tidak mau
kencan buta dengan teman-temanku, berkencan denganku saja,” kata Hyunso dengan
mengedipkan mata sebelah kirinya. Bukannya tergoda, Haerin malah ketakutan
melihatnya.
“Tambah gila!”haerin menggelengkan
kepalanya, bisa-bisanya dia memiliki teman sejenis Hyunso.
Setelah mereka puas memandangi
pesona gunung Naksan dari taman belakang kantornya, keduanya kembali ke meja
kerja masing-masing.
“Kamu sudah tidak ada janji dengan
klien ‘kan? kenapa belum pulang? Bukankah hari ini ayahmu pulang dan akan ada
pertemuan penting antara keluargamu dan Jaehun?”
“Ayahku pulang? Pertemuan? Tapi
semalam kakakku mengatakan jika ayah pulang besok. Aku juga tak tahu apa-apa
mengenai pertemuan itu,” ujar Haerin sedikit murung.diasemakin menyadari jika
Jaehun dan Yerin benar-benar serius. Bahkan kakaknya tidak memberitahunya jika
dia menerima ajakan menikah Jaehun.
“Aku tidak bermaksud membuatmu
sedih, Haerin. Tadi siang Jaehun menelepon dan menceritakannya kepadaku. Aku
pikir kamu sudah tahu.” Hyunso jadi merasa tak enak sudah membuat sang pujaan
hatinya bersedih.
“Iya, tak apa. Tapi aku malas untuk
pulang.”
“Kalau begitu kita kabur saja dari
pertemuan itu. Sebenarnya Jaehun memintaku datang, entah tujuannya apa.”
Tanpa menunggu persetujuan Haerin,
Hyunso menarik tangan perempuan itu. membawanya masuk ke dalam mobilnya
kemudian melajukannya dengan kekuatan sedang menuju Naksan Park. Keduanya
memang suka dengan alam ditimbang perkotaan yang panas dan pengap.
---
Tidak berasa waktu berlalu. Seminggu
terakhir ini Haerin sangat sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara
pernikahan kakaknya, dari penataan ruangan, makanan dan lainnya harus dia
pegang. Tentu semua hal itu tak terlepas dari bantuan Hyunso, kekasihnya. Ya,
Haerin memutuskan untuk merima tawaran hyunso dua minggu yang lalu. Walaupun
sebenarnya perasaan haerin masih lebih besar untuk Jaehun, tapi tak ada guanya
juga menunggu lelaki itu.
Puncak lelahnya adalah hari ini.
Hatinya semakin bergetar melihat Jaehun yang tampak gagah dan Yerin yang cantik
dalam balutan gaun putih. Ya, walaupun tiap hari Yerin sudah cantik. Tapi hari
ini lebih cantik apalagi setelah dipoles sedikit make up.
Haerin segera memutus penglihatannya
kepada calon pasangan itu. segerah dia meninggalkan ruangan yang nantinya akan
dipergunakan sebagai acara perayaan. Dia juga tidak akan menggunakan sepatu
pemberian Jehun kala itu. Sepatu itu terlalu cantik untuknya. Dia lebih memilih
mengenakan sepatu sederhana miliknya, sepatu yang diajaknya belarian seminggu
terakhir ini.
Haerin tidak datang untuk melihat
janji pernikahan keduanya. Mungkin dia lebih memilih datang di penghujung acara
sekadar mengucapkan selamat. Lagi pula dia juga masih menunggu kedatangan
Hyunso. Manusia itu belum menampakkan diri seharian ini. Dia sedikit kesepian.
“Haerin!”
Haerin membalikkan badannya begitu
sebuah tangan menepuk pelan bahu kirinya. Dia hanya diam tak mengatakan apapun
setelah menemukan sosok yang memanggilnya. Jaehun. Ya, Sekarang Jaehun berdiri
di hadapannya dengan pakaian yang sama digunakan lelaki jtu saat mengikrar
janji dengan kakaknya.
“Aku mencarimu kemana-mana seharian
ini. Pikiran kamu kelelahan mempersiapkan semua ini sedikit menggangguku. Aku
mengkhawatikanmu.”
Haerin menatap lekat wajah Jaehun.
Benar, memang ada raut kecemasan di sana yang tidak dibuat-buat. Jaehun ikut
menatap mata kecil Haerin. Ada tanda lelah dan entah apa di mata Haerin, Jaehun
sedikit sulit menebak. Lelaki tersenyum sedih begitu tahu jawabannya,
Haerin-nya tidak mengenakan sepatu pemberiannya.
“Apa kamu marah? Kenapa tidak
dipakai sepatunya? Maaf, bukan aku tidak menyadari signal itu. Kenapa aku lebih
mengirim signal ke kakakmu? Aku tidak bisa memberi signal untukmu. Kurasa aku
perlu menikah, bayanganmu sebagai gadis kecil yang tidak akan berhenti belarian
dan bekerjaran denganku memenuhi kepalaku. Aku tak ingin tiba-tiba kamu pergi,
sederhananya seperti itu. tapi kenapa aku tetap merasa kamu akan pergi jauh?”
terangnya sambil memegang lengan atas Haerin sebelah kiri.
“It
spins me round and drives me crazy, it seems that i’m like the moon that rose
at noon. Kupikir dulu kata cinta itu sebuah seni di mana manusia di
dalamnya penuh dengan kehangatan, ibarat seduhan teh masih mengepulkan asapnya.
Tapi di sisi lain segala hall mengenai cinta terkadang membuat pikiran menjadi
kacau dan gila. Aku hanya merasa gila saja, rasanya aku terjebak dalam
permainan sendiri. Terkadang pernah terpikir kegilaanku seperti bulan yang
terbit pada siang hari. Akumerasa buruk akan salah paham selama ini. Selamat
menempuh kebahagiaan, ke mana pun aku pergi bukankah aku tetap menjadi adikmu?”
kata Haerin yang kemudian melepaskan lingkaran tangan Jaehun. Dia meninggalkan
Jaehun kemudian melewati Hyunso dan Yerin yang baru saja datang menyaksikan sedikit
percakapannya.
Belum genap sepuluh langkah dia
melewati Hyunso, lelaki itu mencekal tangannya yang secara langsung menghentikan pergerakan
Haerin. Haerin tersentak kaget ketika tiba-tiba Hyunso melepas cekalannya dan
berganti mengelus rambut Haerin pelan penuh kasih. Sedang Haerin hanya
tersenyum mendapat perlakuan seperti itu.
“Malangnya dirimu, kamu bahkan
tersenyum saat rambutmu kuusap. Benar-benar adik kecil.”
“Apa maksudmu?” sarkas Haeroin
sedikit tidak terima dengan sebutan itu.
“Tidak ada, ayo kutraktir patbingsoo
di depan kantor. Tempat itu baru buka hari ini,” ujarnya menarik tangan Haerin
keluar meninggalkan Jaehun dan Yerin. Masalah Jaehun dan Yerin bukan hal
penting. Hanya Haerin di pikirannya.

1 komentar:
Keren kakak
Posting Komentar