Pages

Selasa, 03 September 2019

The Moon that Rose at Noon


“Untuk satu minggu ke depan diperkirakan mulai esok hari akan terjadi badai salju di sekitaran Jongno-gu. Diharapkan para pendengar untuk berjaga-jaga.”
 Kabar berita yang sudah menjadi kebiasaan tiap tahunnya. Jadilah perempuan berwajah tirus itu lebih seperti mengabaikannya. Dia menyesap kopi yang beberapa menit lalu terabaikan. Rasanya pahit dan manis, tapi lebih dominan berasa pahit. Dia menaikkan sudut bibir kirinya, tertawa sumbang yang nyaris tak bisa didengar pengunjung lain.
      Sayu, kedua matanya menatap ke depan. Salju sedikit menutupi jalanan ditambah dengan keadaan malam hari, tentu pantas saja jika atmosfer yang menyelubungi kota itu begitu dingin. Berkenaan dengan yang lainnya sudah pasti luaran Cafe Gaeppul ini pun ikut dipenuhi salju, mungkin di beberapa spot.    
Na Haerin mengeratkan lagi kepalan tangan di saku mantel guna menghalau dingin yang membungkus badannya. Sialnya mantel yang melekat pada tubuh kecilnya itu tidak berguna. Tetap saja dia merasakan kedinginan. Alih-alih merindukan ranjang dan selimut tidur yang ketika membungkus badan akan terasa hangat, rasanya dia memilih untuk tidak pulang malam ini. Jika saja bangunan bercat kuning melon itu buka sepanjang hari, dia akan tetap tinggal. Hanya duduk dan berdiam diri.
Sebuah kotak sepatu lengkap dengan sepatunya di meja itu tak pernah lepas dari pengawasannya, seperti jika dilewatkan barang beberapa detik saja benda itu menguap seperti kenangan yang sebelumnya berputar di kehidupannya, hilang dan terlempar jauh karena medan magnetnya sudah hilang. Percakapan yang kebanyakan dia jadi pendengar berputar pendar lagi memenuhi kepala.
“Bagaimana kamu tahu aku sangat menginginkan sepatu ini? Bahkan kamu juga tahu ukuran sepatuku?”
“Semua perempuan akan menyukai sepatu cantik ini. Bagaimana aku tak tahu ketika kemarin kita memasuki beberapa toko di sepanjang Carrall St. kamu memandanginya tanpa berkedip. Jika saja aku tak menarikmu keluar, mungkin kamu hanya akan memandanginya seharian tanpa berniat membelinya.”
“Bukannya aku tak memiliki uang untuk membelinya. Hanya saja merasa sangat sayang jika uang yang kukumpulkan susah payah cukup berubah wujud menjadi sepasang sepatu  di mana tak mungkin kupakai dalam keseharian. Sepatu itu terlalu cantik kuajak belarian.”
“Ahahaha! Kurasa humorku payah. Simpanlah uangmu untuk yang lebih penting. Aku sebenarnya berniat ke rumah untuk memberikannya kepadamu. Ternyata malah ketemu di sini.”
“Itu artinya kita berjodoh.”
“Kurasa kita memang berjodoh. Baiklah, simpan baik-baik. Ini adalah sepatu istimewa untukorang istimewa dan harus dipakai di hari istimewa. Oh ya, aku tahuukuran sepatumu dari Yerin.”
“Hari istimewa?”
“Kamu tahu ‘kan aku bukan tipe pria yang suka menjalin hubungan sejenis berpacaran? Walaupun aku tidak apa perasaannya terhadapku tapi kurasa dia menangkap signal-signal yang kuberikan selama ini. Aku ingin menikah dengan Yerin. Kamu harus mendukungku.”
Kim Jaehun sudah lama pergi, katanya dia ingin menjemput Yerin. Lelaki itu sudah berniat pula mengajak Haerin pulang bersama tetapi ditolaknya dengan alibi dia masih menunggu seorang teman.
Apa dia bilang? Menangkap signal darinya? Bahkan dia tak menangkap signal dariku? Kenapa aku begitu kesal? Haerin mengusap kasar wajahnya. Kesal, marah, dan perasaan tidak terima bergabung menjadi satu. Dia mengambil buku harian tua miliknya, ada aroma kayu keluar dari buku itu. Mengisinya dengan beberapa kalimat tanpa minat.

Cafe Daeppul, 24/11
Pangeran kuda putihku akan menikah dengan kakakku. Walaupun aku tak ingin mengambil peran, sudah pastilah aku menjadi pihak yang bertanggungjawab dalam resepsi nanti. Aku seorang wedding organizer.
---
Angin bertiup semakin kencang. Dia memang pekerja keras. Usahanya yang bertujuan membuat Haerin menggigil kedinginan berhasil. Dia masih berdiri mematung di jalanan yang dipenuhi salju. Dia mengeluarkan dua kunci, menimang mana sebaiknya yang dia pilih. Kunci rumah di sebelah kanan dan di tangan kiri dia menggenggam kunci kantor. Sebenarnya dia lebih memilih tidur di kafe itu. Sayang, pemilikmya sudah mengusirnya, meminta dia segera pulang.
“Baiklah aku akan bermalam di kantor saja,” ucap Haerin berbelok ke arah kiri. Belum sampai sepuluh langkah kakinya berhenti. “Tapi di kantor tak ada ranjang dan bantal, aku bisa tambah sakit. Tapi di rumah pasti ketemu kakak.”
“Baik-baik! Aku akan pulang ke rumah. Lagi pula pasti kakak sudah tidur. Aku belum siap bertemu dengannya,” pungkasnya.
Sesampai di tujuan, Haerin mengendap-endap masuk seperti maling taku ketahuan. Wajahnya menjadi pucat pasi, lampu menyala tepat dia menutup pintu utama.
“Kenapa baru pulang?”
Dilihatnya sang kakak, Yerin, berdiri sedekap tak jauh darinya. Sial. Dia ketahuan. Tak biasa kakaknya itu masih terjaga. Haerin rupanya tengah kurang beruntung.
“Biasa, Kak. Aku ketiduran di kafe. Bahkan aku dibangunkan pemiliknya langsung,” bela Haerin sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Untung saja Ayah tidak jadi pulang hari ini. Kalau tidak, kamu pasti kena marah. Ya sudah Kakak kembali tidur lagi. Lain kali jangan diulangi. Oh ya, Ayah pulang dua hari lagi.”
Haerin tak menjawab dan kakaknya pun sudah menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Dia pun menyusul menunju lantai dua, membawa badan dan hatinya yang mendingin.
Haerin meletakakkan sepatu pemberian jaehun di atas nakas. Sedang dirinya langsung melemparkan badan menuju ranjang tanpa berniat mandi atau sekadar mengganti pakaiannya yang sedikit basah. Haerin tak bisa tidur. Dia lebih memilih menatap langit-langit kamarnya tanpa berkedip. Hidup ini ajaib. Segala hal yang kutulis dalam wish list tak pernah tergapai. Baiklah aku menginginkan sepatu itu. tapi aku tak pernah menuliskannya.
---
“Kenapa wajahmu kusut begitu? Bangun kesiangan ya? Terus lupa nyetrika. Hahaha!” ejek teman seprofesinya, Lee  Hyunso yang diakhiri tertawa yang lumayan nyaring. Untung saja yang lainnya belum datang.
“Benar-benar menyebalkan! Carilah target lain hari ini. Aku sedang tak ingin diganggu. Lebih baik kamu temui klienmu itu. mengganggu saja!”
“Seperti habis ditolak saja kamu ini. Apa jangan-jangan kamu habis ditolak Jaehun beneran, ya. Malangnya nasibmu, ahahaha!”
“Haerin! Apa-apaan kamu ini? Lihat bajuku jadi basah. Aku harus menemui anak Park Jaeho hari ini. Masa iya aku harus bertelanjang dada, bisa berakhirlah aku di dapur hotelnya menjadi santapan pengunjung kanibal,” pekik Hyunso tak terima dengan perbuatan Haerin. Ya, Haerin menyiramkan air mineral yang baru saja diambilnya ke arah Hyunso.
“Aku tidak peduli. Salah sendiri menggangguku duluan. Itu imbalan yang setimpal. Kamu pasti belum mandi ‘kan. Seharusnya kamu berterima kasih aku sudah berbaik hati memanndikanmu.”
“Haerin! Awas ya,” teriak lelaki itu kemudian mengejar Haerin berusaha menempelkan badannya yang basah ke badan Haerin agar dia ikut basah kuyup sama sepertinya.
Mereka terus belarian dan bekerjaran, tidak memedulikan kantor sebentar lagi akan ramai. Bahkan keduanya tak menyadari kehadiran atasan mereka yang sudah bergeleng kepala.
“Kalian sedang apa? Ini kantor bukan taman bermain. Dan kenapa bajumu basah? Mau kupotong gaji kalian?”
Keduanya menunduk, tidak berani menjawab. Segera mereka mengangkat kepala masing-masing begitu Oh Daeyeol, atasan mereka berlalu.
“Ini gara-gara ulahmu, Haerin!”
“Kamu menyalahkanku? Bahkan kamu sudah membuat bajuku ikutan basah. Dasar lelaki tidak peka! Temanmu ini butuh hiburan bukan malah dibuat marah-marah,” ujar Haerin sedih tanpa menatapnya. Haerin kembali menuju meja kerjanya. Hyunso benar-benar kaget mendapat tanggapan sedemikian. Tidak biasanya dia melihat raut wajah Haerin seperti hari ini.
---
            “Kamu harus tahu perempuan itu suka mambuat suatu hal menjadi rumit yang sebenarnya terlihat sederhana. Ini lebih dari penolakan. Sebelum aku sempat mengatakannya, dia sudah penyataan seperti itu. Kurasa sahabatmu itu tidak ingin menolak ataupun menyakiti perempuan lain. Tapi tetap saja aku belum menerima hal itu dengan lapang dada.”
            “Lalu apa rencanamu?”
            “Tidak ada.”
            “Sudahlah lupakan dia. Aku punya beberapa rencana.”
            “Apa memnggagalkan pernikahan mereka adalah termasuk salah satu rencanamu?”
            “Aku tidak pernah memikirkan hal itu.”
            “Haerin berkencanlah!”
            “Dasar Hyunso bodoh! Kamu kira berkencan itu mudah? Kamu memintaku berkencan seperti memintaku makan saja.”
            “Aku punya banyak kenalan yang bisa diajak berkencan buta. Siapa tahu ada yang berjodoh.”
            “Hyunso bodoh!”
            “Berhentilah mengatakan aku bodoh.padahal akusudah berusaha keras menghiburmu. Haerin! Jika tidak mau kencan buta dengan teman-temanku, berkencan denganku saja,” kata Hyunso dengan mengedipkan mata sebelah kirinya. Bukannya tergoda, Haerin malah ketakutan melihatnya.
            “Tambah gila!”haerin menggelengkan kepalanya, bisa-bisanya dia memiliki teman sejenis Hyunso.
            Setelah mereka puas memandangi pesona gunung Naksan dari taman belakang kantornya, keduanya kembali ke meja kerja masing-masing.
            “Kamu sudah tidak ada janji dengan klien ‘kan? kenapa belum pulang? Bukankah hari ini ayahmu pulang dan akan ada pertemuan penting antara keluargamu dan Jaehun?”
            “Ayahku pulang? Pertemuan? Tapi semalam kakakku mengatakan jika ayah pulang besok. Aku juga tak tahu apa-apa mengenai pertemuan itu,” ujar Haerin sedikit murung.diasemakin menyadari jika Jaehun dan Yerin benar-benar serius. Bahkan kakaknya tidak memberitahunya jika dia menerima ajakan menikah Jaehun.
            “Aku tidak bermaksud membuatmu sedih, Haerin. Tadi siang Jaehun menelepon dan menceritakannya kepadaku. Aku pikir kamu sudah tahu.” Hyunso jadi merasa tak enak sudah membuat sang pujaan hatinya bersedih.
            “Iya, tak apa. Tapi aku malas untuk pulang.”
            “Kalau begitu kita kabur saja dari pertemuan itu. Sebenarnya Jaehun memintaku datang, entah tujuannya apa.”
            Tanpa menunggu persetujuan Haerin, Hyunso menarik tangan perempuan itu. membawanya masuk ke dalam mobilnya kemudian melajukannya dengan kekuatan sedang menuju Naksan Park. Keduanya memang suka dengan alam ditimbang perkotaan yang panas dan pengap.
---
            Tidak berasa waktu berlalu. Seminggu terakhir ini Haerin sangat sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara pernikahan kakaknya, dari penataan ruangan, makanan dan lainnya harus dia pegang. Tentu semua hal itu tak terlepas dari bantuan Hyunso, kekasihnya. Ya, Haerin memutuskan untuk merima tawaran hyunso dua minggu yang lalu. Walaupun sebenarnya perasaan haerin masih lebih besar untuk Jaehun, tapi tak ada guanya juga menunggu lelaki itu.
            Puncak lelahnya adalah hari ini. Hatinya semakin bergetar melihat Jaehun yang tampak gagah dan Yerin yang cantik dalam balutan gaun putih. Ya, walaupun tiap hari Yerin sudah cantik. Tapi hari ini lebih cantik apalagi setelah dipoles sedikit make up.
            Haerin segera memutus penglihatannya kepada calon pasangan itu. segerah dia meninggalkan ruangan yang nantinya akan dipergunakan sebagai acara perayaan. Dia juga tidak akan menggunakan sepatu pemberian Jehun kala itu. Sepatu itu terlalu cantik untuknya. Dia lebih memilih mengenakan sepatu sederhana miliknya, sepatu yang diajaknya belarian seminggu terakhir ini.
            Haerin tidak datang untuk melihat janji pernikahan keduanya. Mungkin dia lebih memilih datang di penghujung acara sekadar mengucapkan selamat. Lagi pula dia juga masih menunggu kedatangan Hyunso. Manusia itu belum menampakkan diri seharian ini. Dia sedikit kesepian.
            “Haerin!”
            Haerin membalikkan badannya begitu sebuah tangan menepuk pelan bahu kirinya. Dia hanya diam tak mengatakan apapun setelah menemukan sosok yang memanggilnya. Jaehun. Ya, Sekarang Jaehun berdiri di hadapannya dengan pakaian yang sama digunakan lelaki jtu saat mengikrar janji dengan kakaknya.
            “Aku mencarimu kemana-mana seharian ini. Pikiran kamu kelelahan mempersiapkan semua ini sedikit menggangguku. Aku mengkhawatikanmu.”
            Haerin menatap lekat wajah Jaehun. Benar, memang ada raut kecemasan di sana yang tidak dibuat-buat. Jaehun ikut menatap mata kecil Haerin. Ada tanda lelah dan entah apa di mata Haerin, Jaehun sedikit sulit menebak. Lelaki tersenyum sedih begitu tahu jawabannya, Haerin-nya tidak mengenakan sepatu pemberiannya.
            “Apa kamu marah? Kenapa tidak dipakai sepatunya? Maaf, bukan aku tidak menyadari signal itu. Kenapa aku lebih mengirim signal ke kakakmu? Aku tidak bisa memberi signal untukmu. Kurasa aku perlu menikah, bayanganmu sebagai gadis kecil yang tidak akan berhenti belarian dan bekerjaran denganku memenuhi kepalaku. Aku tak ingin tiba-tiba kamu pergi, sederhananya seperti itu. tapi kenapa aku tetap merasa kamu akan pergi jauh?” terangnya sambil memegang lengan atas Haerin sebelah kiri.
            It spins me round and drives me crazy, it seems that i’m like the moon that rose at noon. Kupikir dulu kata cinta itu sebuah seni di mana manusia di dalamnya penuh dengan kehangatan, ibarat seduhan teh masih mengepulkan asapnya. Tapi di sisi lain segala hall mengenai cinta terkadang membuat pikiran menjadi kacau dan gila. Aku hanya merasa gila saja, rasanya aku terjebak dalam permainan sendiri. Terkadang pernah terpikir kegilaanku seperti bulan yang terbit pada siang hari. Akumerasa buruk akan salah paham selama ini. Selamat menempuh kebahagiaan, ke mana pun aku pergi bukankah aku tetap menjadi adikmu?” kata Haerin yang kemudian melepaskan lingkaran tangan Jaehun. Dia meninggalkan Jaehun kemudian melewati Hyunso dan Yerin yang baru saja datang menyaksikan sedikit percakapannya.
            Belum genap sepuluh langkah dia melewati Hyunso, lelaki itu mencekal tangannya  yang secara langsung menghentikan pergerakan Haerin. Haerin tersentak kaget ketika tiba-tiba Hyunso melepas cekalannya dan berganti mengelus rambut Haerin pelan penuh kasih. Sedang Haerin hanya tersenyum mendapat perlakuan seperti itu.
            “Malangnya dirimu, kamu bahkan tersenyum saat rambutmu kuusap. Benar-benar adik kecil.”
            “Apa maksudmu?” sarkas Haeroin sedikit tidak terima dengan sebutan itu.
            “Tidak ada, ayo kutraktir patbingsoo di depan kantor. Tempat itu baru buka hari ini,” ujarnya menarik tangan Haerin keluar meninggalkan Jaehun dan Yerin. Masalah Jaehun dan Yerin bukan hal penting. Hanya Haerin di pikirannya.
           






1 komentar:

Devarisma mengatakan...

Keren kakak

Posting Komentar